expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Jumat, 18 Maret 2016

Summer 2015: ( 15 ) Wrecking Ball





            We clawed, we chained our hearts in vain we jumped never asking why

We kissed, I fell under your spell A love no one could deny

Don't you ever say I just walked away I will always want you

I can't live a lie, running for my life I will always want you


I came in like a wrecking ball I never hit so hard in love

All I wanted was to break your walls

All you ever did was wreck me, you, you wreck me

I came in like a wrecking ball, I just closed my eyes and swung

Left me crashing in a blazing fall all you ever did was wreck me

You, you wreck me..”

***

Aku menangis. Aku menangis dan tidak mempedulikan Lily dan lainnya. Aku terus saja menangis teringat akan pertemuanku dengan Michael. Michael adalah sahabat Luke dan Michael sangat baik ingin membantuku agar Luke mau melihatku. Really? I’m not sure. Yang jelas aku menangis bukan karena kebaikan Michael, tetapi karena perasaan bodoh ini. Aku merasa bodoh mencintai Luke yang jelas-jelas tidak mau memahami perasaanku walau terkadang Luke bagaikan malaikat. Tidak! Walau Michael adalah sahabat Luke, salah besar jika Michael memaksa Luke untuk putus dengan Ary demi aku. Dan jika Luke tau tentang perasaan ini.. Matilah aku! Luke akan marah padaku dan dia tidak akan sudi melihatku. Lalu bagaimana cara mengatasi perasaan sialan ini? Move on begitu aja? Atau mencari seseorang yang baru? Apakah melupakan seseorang yang sangat kau cintai adalah hal yang mudah?

Lily mengatakan padaku sebaiknya aku membuang perasaan ini secara perlahan. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa melepaskannya begitu saja. Bisa saja aku melepaskan perasaan itu namun kenyataannya perasaan-perasaan itu masih menghantuiku. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain menangis. Ya, hanya karena mengenal sosok bernama Luke Hemmings aku jadi cengeng seperti ini.

“Kau ingat Mike? Dia begitu baik padamu, dan.. perhatian.” Ucap Lily.

Aku mengusap mataku dan sedikit tersenyum ketika Lily menyebut nama Michael. Michael memang baik, bisa saja aku jatuh cinta padanya kalau saja aku tidak mengenal sosok Luke Fuckin’ Hemmings. Michael amatlah perhatian dan aku tidak tau apa maksud dibalik sikapnya yang sangat ramah padaku padahal baru saja kami bertemu. Aku berharap dengan kehadiran Michael bisa mengobati rasa sakitku.

“Mike is a nice person.” Ucapku.

See, baru saja kau menangis dan kau langsung tersenyum saat aku menyebut nama Mike. Cobalah melupakan Luke atau barangkali kau tertarik dengan Mike.” Ucap Lily.

Aku tersenyum kecut. Amat mudah bagi Lily untuk mengatakannya. God! Aku mau melupakan Luke dan jatuh cinta pada Michael. Tapi bagaimana caranya? Perasaan sialan itu sudah menempel kuat di hatiku dan tidak ada yang bisa melepasnya. Aku tidak ingin Michael kujadikan sebagai pelampiasanku. Ingat, Michael adalah sahabat Luke dan aku tidak mau menghancurkan persahabatan mereka.

“Aku hanya berharap musim panas ini berakhir dan kembali ke Indonesia..” Ucapku pelan.

***

Kurasa hari Minggu sangat jauh dariku dan aku selalu menunggu hari Minggu. Sekarang saja baru hari Rabu. Huh. Aku kembali bertatapan dengan Luke dan hatiku semakin hancur. Aku tidak berani berbicara pada guru-guru disana agar aku bisa pindah kelas atau dikembalikan ke Indonesia. Aku muak dengan musim panas di London ini. Ternyata, musim panas tidak seindah yang kubayangkan. Tapi jika tidak ada sosok Luke, aku akan menjalani hari-hari yang indah tanpa kesedihan.

Mataku terlihat bengkak karena terlalu banyak menangis tapi aku tidak peduli. Aku berjalan masuk ke kelas dan disana sudah ada Luke yang tentunya tetap terlihat tampan dan memukau. Ketika aku datang, Luke langsung mempersilahkanku untuk duduk karena aku duduk di bangku yang paling ujung dan jika aku duduk, terlebih dahulu Luke harus keluar dari bangkunya agar aku bisa duduk. Aku duduk dengan jantung yang berdebar-debar. Andaikata segalanya berjalan seperti apa yang aku bayangkan.

“Aku curiga kalau Michael menyukaimu.” Ucap Luke tiba-tiba.

Detakku semakin berdebar hebat mendengar suara Luke. Aku tidak mempedulikan apa yang Luke ucapkan, tapi suara Luke.. Argh! Otakku mulai konslet dan kurasa aku ingin amnesia selama musim panas dan melupakan perasaan bodoh ini. Aku memberanikan diri menatap Luke dan mata biru itu juga sedang menatapku. Hell, Luke, Hell! Mengapa ada mata seindah mata itu? Dan mengapa ada tatapan yang bisa mematikan siapa saja yang melihatnya? Mengapa Luke terlihat begitu sempurna?

“Jawab pertanyaanku!” Ucap Luke sedikit ketus.

Aku kaget mendengar ucapan suaranya yang cukup tinggi. Apa semalaman Luke habis mabuk bersama si Ar.. Argh! Kenapa aku harus mengingat cewek sialan itu? Dasar cewek setan! Aku tidak peduli mendapat banyak dosa hanya karena mengumpati Ary, aku tidak peduli asalkan hal itu membuatku puas. Oke. Tadi Luke bilang apa? Hah! Michael!

“Coba ulangi.” Ucapku dengan suara yang bergemetar.

Luke tidak merespon ucapanku. Cowok itu malah menatapku dengan tajam lalu sedikit mendekatkan tubuhnya pada tubuhku. Kemudian tangannya memegang pundakku dan aku langsung merinding. Jarak kami sangatlah dekat dan rasanya seperti mengalami deva ju. Ya, aku pernah merasakan perasaan ini saat detik-detik dimana Luke hendak menciumku. Sial. Aku teringat dengan ciuman indah itu, begitu nikmat dan sulit untuk dibayangkan. Aku berpikir, apa maksudnya ciuman itu? Tidak mungkin Luke menciumku seperti itu sedangkan dia sudah punya pacar. Apa setelah ini Luke kembali menciumku lagi?

You’re beautiful. Your eyes are so beautiful.” Ucap Luke lalu kembali duduk dengan posisi biasa.

Apa? Aku berharap aku tidak salah dengar. Tapi aku mendengarnya dengan sangat jelas. Luke mengatakan kalau aku cantik dan pipiku langsung memerah. Dasar Farah! Gadis yang sangat bodoh dan mudah dipermainkan oleh cowok macam Luke. Aku menertawai diriku sendiri dan merasa menjadi orang terbodoh dunia.

***

Good. Bel pulang berbunyi dan aku harus cepat-cepat kembali ke rumah. Namun belum sampai di pintu gerbang aku bertemu Michael. Astaga cowok itu sudah berganti warna rambut dan sekarang warna rambutnya biru! Great. Michael adalah cowok yang unik dengan cara mengganti warna rambutnya. It’s okay. Aku tidak memikirkan soal warna rambut Michael atau tattoo Michael. Michael menyapaku dengan senyuman khasnya.

“Ada waktu nanti malam?” Tanya Michael.

Aku berpikir sesaat dan bisa menebak apa maksud Michael. “Mmm.. Tidak ada. Aku bebas nanti malam.” Jawabku.

“Aku ingin mengajakmu makan malam.” Ucap Michael.

Belum saja aku menjawab, Luke datang dan menarik paksa tanganku sehingga tas yang aku bawa jatuh ke tanah. Sialan! Dasar cowok kasar dan sangat tidak sopan! Aku merasa tanganku sakit akibat perbuatan Luke. Sementara Michael menatap Luke dengan tidak suka. Ku mohon jangan bertengkar, aku tidak ingin kalian bertengkar hanya karena aku. Dan kenapa Luke tiba-tiba menarik tanganku?

“Kau kenapa sih?” Bentakku.

Bagus. Aku sudah berani membentak Luke dan rasa sakit itu kembali hadir. Ku kuatkan hatiku untuk tidak meneteskan air mata. Luke tidak menjawab pertanyaanku lalu dengan gerakan yang cepat dan tidak di duga, Luke menarik tubuhku lalu… Oh yeah. Aku lelah dengan semua itu. Cowok kasar namun terlihat sempurna dimataku menciumku dengan paksa tapi aku tidak bisa menolaknya. Ciuman keduaku, tapi tidak seindah ciuman pertama. Aku bertaruh orang yang melihat kami berciuman mengira kami berdua sedang terbawa nafsu. Lalu Michael? Aku sadar dan berusaha melepaskan ciumannya walau tidak rela dan akhirnya Luke mau melepaskannya. Aku hendak bicara tapi Michael yang duluan bicara.

“Lucas! You’re crazy! Jangan kau sakiti Farah!” Bentak Michael.

Luke menatap Michael dengan tajam dan seperti ingin memakan Michael. Ku mohon, jangan bertengkar hanya karena aku. “So this is your problem? Apa hubungannya kau dengan Farah? Aku bebas mencium gadis manapun termasuk Farah.” Ucap Luke.

Michael menggaruk rambutnya frustrasi. “Wake up, Luk! Wake up! Kau telah berubah dan aku sangat merindukan dirimu yang dulu.” Ucapnya.

            Selanjutnya Luke beralih menatapku yang sudah sangat malu akibat ciuman paksa itu. “Jam tujuh aku akan menjemputmu dan mau tidak mau kau harus siap.” Ucapnya lalu meninggalkan kami berdua yang masih bingung. Sialan!

            He’s so crazy! Jadi Farah, apakah kau mau menerima ajakannya? Bukankah aku yang mengajakmu duluan?” Tanya Michael.

***

            Maafkan aku Mike, maafkan aku. Jika disuruh memilih, tentu aku memilih Luke dibanding Michael. Aku menerima ajakan Luke dan tidak peduli Luke akan membawaku kemana. Dan aku siap dengan segala konsekuensinya. Malam ini aku siap menangis dan menjadi anak yang bodoh. Tentu Corine amat senang mendengar aku akan pergi malam ini bersama Luke. Corine malah menyuruhku menggunakan dress-nya yang seksi dan aku memberanikan diri untuk mencobanya. Mati kau Luk! Malam ini aku akan menggunakan pakaian yang seksi bahkan melebihi pacar tercintamu itu. Aku memang nakal semenjak merasakan perasaan bodoh ini.

            Finally, aku menggunakan terusan tanpa lengan berwarna biru muda dan kurasa baju ini adalah baju terpendek yang pernah aku gunakan. Bahkan dibagian bawahnya saja sudah sangat pendek tapi aku tidak peduli. Juga dibagian pinggang dan dadanya amatlah ketat. Corine bertepuk tangan melihat penampilan baruku dan merasa gadis yang dilihatnya bukanlah Farah.

            I bet Luke akan mabuk melihatmu.” Ucap Corine.

            Setelah semuanya siap, aku hanya tinggal menunggu Luke dan berusaha untuk tenang. Tapi bagaimana caranya Luke menemuiku? Bahkan Luke tidak memiliki nomor ponselku. Aku curiga kalau-kalau Luke berbohong padaku dan aku menyesal berdandan seperti ini.

            Drtdrtdrt…

            1 Message From: 081xxxxxxxxx

            Aku sudah di gerbang asramamu. Cepat turun!

            Luke

            Darimana Luke mendapatkan nomor ponselku? Well, itu tidak penting. Aku meraih cardiganku karena tentunya aku malu jika bertemu dengan teman-teman lain. Dipikiran mereka itu menganggap aku anak yang alim dan tidak pernah keluar kamar. Setelah berada di luar asrama, mimpi atau bukan, aku melihat cowok berpakaian serba hitam ditambah kaca mata hitam dan sudah dapat kutebak cowok itu adalah Luke. Dia terlihat sangat keren. Aku heran dalam rangka apa Luke mengajakku keluar malam ini.

            Luke membuka kacamatanya dan menatapku dari atas sampai bawah. Aku masih menggunakan cardigan panjangku lalu secara refleks aku membukanya. Farah gila! Aku membalas tatapan dengan Luke dan berusaha kuat dengan keadaan.

            Your new style? But don’t try to be a sexy girl like Ary because she’s the most sexy girl I’ve met.” Ucap Luke lalu buru-buru masuk ke dalam mobilnya.

            Fuck! Damn! Shit! Hell! Aku ingin meremas-remas rambutku dan ingin sekali berteriak seperti orang gila. Tapi aku harus menjaga image-ku dan masuk dengan manis ke dalam mobil Luke. So, sejak kapan Luke bisa menyetir mobil dan ini mobil siapa? Tapi rasanya begitu mendebar-debarkan berada di dalam satu mobil bersama Luke. Aku harap Luke tidak membawaku ke tempat yang tidak sesuai dengan umurku. Selama di perjalanan, kami saling diam dan aku menikmati semua rasa yang hadir di dalam mobil ini. Tentu saja aku merasa senang walau kesal karena ucapan Luke tadi.

            Ternyata Luke mengajakku ke restoran yang terlihat mewah dan aku menjadi ragu. Hmm.. Luke adalah anak orang kaya, jadi tidak salah jika Luke mengajakku ke tempat ini. Tapi aku masih penasaran mengapa Luke sampai bisa mengajakku keluar bertepatan dengan ajakan Michael. Apa Luke tidak suka jika Michael mengajakku keluar? Tapi untuk apa Luke merasa tidak suka? Aku bukan siapa-siapa Luke. Ohya, Luke kan gila, batinku teringat dengan ucapan Michael yang mengatakan kalau Luke memang gila dan aku penasaran dengan kisah masa lalu Luke.

            Baru saja aku membuka pintu mobil, dengan gerakan cepat Luke membuka pintu mobil untukku dan pipiku langsung memerah. Kuharap setelah ini sikap malaikat Luke-lah yang berperan dan aku berdoa supaya Luke tidak menyakitiku melalui ucapan-ucapannya. Kemudian Luke meraih tanganku dan sempurnalah malam ini. Ohya! Tentu saja aku gemetaran bukan main dan tidak bisa mengontrol detakan jantungku.

            Aku jadi teringat dengan makan malam terakhirku bersama Alex. Alex mengajakku pergi ke restoran tapi tidak semewah restoran ini. Ketika pramusaji datang, aku memesan apa yang Luke pesan. Mungkin lebih baik aku diam dan berusaha mengabaikan Luke serta mengubur dalam-dalam segala pertanyaan yang berhubungan dengan ajakan mendadak makan malam ini. Dalam diamku, aku merasa Luke tidak berhenti untuk terus menatapku sementara aku terus saja menunduk karena tidak berani menatap wajahnya. Aku sengaja menaruh tanganku di bawah meja sambil meremas-remasnya.

            “Jadi, sejauh mana hubunganmu dengan Michael?” Tanya Luke membuka pertanyaan.

            Aku mengangkat wajahku dan menatapnya. Untuk apa Luke menanyakan pertanyaan itu? Aku bukan siapa-siapanya! Mungkin Michael juga heran dengan pertanyaan itu jika Luke menanyakannya pada Michael. Tapi aku memilih menjawab saja dan berusaha menebak apa maksud dibalik pertanyaan itu.

            We are just friends. Tapi Mike sangat baik padaku. Baru saja kami bertemu dan aku merasa nyaman bicara dengannya.” Jawabku.

            “Oh, aku curiga kalau kau menyukainya.” Ucap Luke.

            Jadi ceritanya Luke cemburu jika aku menyukai Michael? Sebisa mungkin aku tahan tawaku. Tapi yah, Luke kan sudah punya pacar tapi aku curiga kalau Luke sama sekali tidak mencintai Ary.

            “Aku juga curiga kalau kau tidak mencintai Ary.” Ucapku antara sadar dan tidak sadar.

            Lihat kan, Luke serasa ingin meledak kalau saja pramusaji tidak datang untuk meredakan emosi Luke akibat ucapanku. Bau makanan yang sangat lezat menciptakan rasa lapar yang luar biasa. Bisa saja aku memojokkan Luke dengan menggunakan pacarnya itu tetapi aku lebih memilih untuk memakan makananku. Luke pun begitu.

            “Setelah ini aku akan mengajakmu pergi ke suatu tempat.” Ucap Luke dengan nada kalem.

            Jantungku berdetak-detak mendengar suaranya yang tiba-tiba berubah menjadi lembut. Pergi ke suatu tempat? Ku harap Luke tidak membawaku ke jurang yang dalam atau masuk ke dalam dunianya karena aku masih merasa menjadi anak yang alim. Setelah makanan kami habis, Luke meraih tanganku dan memegang pinggangku. Banyak pasang mata yang melihat kami dan mereka berpikir kami adalah pasangan yang bahagia. Salah. Aku merasa tengah dipermainkan oleh Luke. Aku seperti sebuah bola yang terus saja dimainkan oleh pemiliknya. Tapi aku tidak peduli. Aku terlalu mencintai Luke dan mau saja mengikuti ucapannya sekalipun itu menyakitkan hatiku.

            Ketika aku hendak membuka mobil, Luke menepis tanganku sehingga aku gagal membuka pintu mobil. Kupikir Luke yang akan membukakan pintu mobil untukku. Tetapi… Cowok itu malah memaksaku agar aku berada dekat dengan tubuhnya tanpa menyisakan jarak sedikitpun. Kemudian Luke memegang pinggangku dengan erat dan aku merasa kesakitan. Luke kenapa? Oke! Aku ingin pulang! Aku sudah muak dengan malam ini. Selanjutnya, aku bisa menebak hal apa yang dilakukan Luke. Cowok itu menciumku namun tidak secara paksa. Melainkan sebuah ciuman yang sangat lembut seperti ciuman yang Luke berikan pertama kali. Aku hanyut dalam ciuman itu dan seluruh rasa kesalku pada Luke hilang begitu saja. Aku pun melingkarkan tanganku ke lehernya, sama seperti apa yang pernah aku lakukan pada saat first kiss itu, namun aku harus berjinjit karena tinggi ku tentu saja tidak setara dengan Luke walau kata Marie aku adalah tipe cewek yang memiliki tinggi badan yang sesuai dengan model Victoria, ya seperti Kendall Jenner-kah. Tidak tau kenapa tiba-tiba aku mengangumi sosok Kendall Jenner padahal gaya hidupnya sangat bertolak belakang dengan hidupku.

            Setelah ciuman itu berakhir, aku menatap Luke dan dia menatapku dengan lembut. “Luk, apa.. apa maksud dari ciuman itu?” Tanyaku kaku.

            Luke tidak menjawab pertanyaanku. Cowok itu malah tersenyum lalu mencubit pipiku dan menyuruhku masuk ke dalam mobilnya. Actually, what the hell’s going on? Mengapa Luke tiba-tiba tersenyum lalu mencubit pipiku? Luke sedang tidak mabuk kan? Aku memilih untuk diam dan meyakinkan diriku bahwa apa yang barusan terjadi hanyalah sebuah kebohongan yang menyakitkan.

            Mobil Luke berhenti di sebuah tempat yang… Astaga! Apa Luke akan mengajakku untuk melakukan hal-hal yang sangat kuhindari? Luke membuka pintu mobil dan langsung menarik tanganku dengan kasar. Luke berubah dengan sangat cepat dan aku pasrah saja. Tapi aku berharap aku akan baik-baik saja disana. Dan bagaimana jika disana aku bertemu dengan Ary? Tempat itu sangatlah pengap dan bau alkohol dimana-mana. So, this is Luke’s place? Aku baru berumur tujuh belas dan aku menjadi takut. Tapi karena genggaman erat tangan Luke, hatiku menjadi tenang.

            Entahlah apa yang dibicarakan Luke dengan teman-temannya yang jelas aku tersenyum pahit melihat Luke yang asyik meminum minuman yang bisa membuatnya mabuk. Genggaman tangan itu sudah lepas dan kurasa Luke sudah melupakanku. Aku ingin menangis di tengah hiruk pikuk orang-orang gila ini. Kepalaku tiba-tiba saja menjadi pusing dan aku merasa beberapa hidung belang mulai mendekatiku dan menggodaku. Ku silangkan tanganku di depan dadaku dan berdoa agar aku baik-baik saja.

            Dan.. Aku tidak sengaja menemukan Luke yang sudah teler dan sekarang dia sedang tiduran di sofa dan… Setan! Ary ada disini dan dia memilih duduk di samping Luke sambil memegang pipi Luke. Luke tersenyum pada Ary lalu membiarkan gadis itu jatuh di atas tubuhnya kemudian Luke mencim bibir Ary dengan penuh nafsu. Rasa pusingku semakin menjadi-jadi, ditambah lagi air mataku yang sudah mengalir deras membahasi pipiku. Aku tertunduk dan rasanya ingin pingsan. Luke. Apa artinya aku untuknya? Apa artinya ciuman itu? Sadarlah Farah, Luke hanya mempermainkanmu dan dia berusaha untuk menghancurkanmu. Hadirku di dalam hidupnya bukanlah apa-apa. Aku masih menangis lalu aku merasa ada tangan yang menarik lenganku.

            “Si.. Siapa kau?” Tanyaku takut-takut.

            Cowok berambut gondrong itu tidak menjawab pertanyaanku melainkan memaksaku agar mau mengikutinya. Tangisku semakin kencang tapi mana ada yang mau peduli padaku? Aku mempasrahkan semuanya pada Tuhan dan jika aku mati saat itu juga, aku berharap Mom, Dad, Rachel ataupun semua orang yang mengenaliku mau memaafkan semua kesalahan yang pernah aku buat pada mereka.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar