expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Jumat, 18 Maret 2016

Summer 2015: ( 10 ) Fight Song





Like a small boat on the ocean

Sending big waves into motion

Like how a single word can make a heart open

I might only have one match but I can make an explosion

And all those things I didn't say wrecking balls inside my brain

I will scream them loud tonight can you hear my voice this time?


This is my fight song take back my life song

Prove I'm alright song my power's turned on

Starting right now I'll be strong I’ll play my fight song

And I don't really care if nobody else believes

'Cause I've still got a lot of fight left in me..”

***

Sudah belasan kali aku memutar lagu yang berjudul Fight Song namun sama sekali tidak menghiburku. Aku masih merasakan kesedihan akibat melihat Luke dengan gadis itu dan aku merasa tidak pantas berteman dengan Luke. Tipe orang yang bisa bergaul dengan Luke adalah orang seperti gadis itu. Pantasan saja Luke tidak memiliki teman di kelas karena ku rasa teman-teman kelasku adalah anak-anak yang baik. Mungkin saja.

Pagi ini aku terbangun dan rasanya aku malas untuk sekolah. Pasti aku akan bertemu Luke dan aku tidak tau apakah aku bisa menyembunyikan wajah sedihku ini dan sisa-sisa air mata. Corine menyarankanku untuk menggunakan masker timun agar mataku tidak terlihat seperti orang yang habis menangis. Tapi rasanya sia-sia.

“Sebaiknya kau tidak sekolah dulu.” Ucap Chloe.

Aku menggeleng pelan. “Tak apa. Aku baik-baik saja.” Ucapku.

Aku memang harus baik-baik saja dan mulai menata hidup baru. Hidup tanpa bayangan-bayangan cowok. Hidup tanpa cinta, ya. Aku akan berjuang sekuat mungkin. Aku pasti bisa. Tapi.. Mengapa harus ada kata ‘tapi’ di setiap tekad yang aku buat? Mengapa selalu ada yang menghalanginya? Aku pun berangkat sekolah dan sepanjang perjalanan ku rasakan debaran jantungku yang di atas rata-rata. Gawat. Aku bisa saja terkena penyakit jantung kalau begini caranya.

Setiba di kelas, aku melihat Luke dan aku tidak tau harus bagaimana lagi. Luke tampak alim disana seperti seekor pinguin ( apa ini? ), tetapi di luar sana Luke bagaikan seorang elang yang ganas, yang siap memangsa mangsanya. Masih ada bayangan Luke dengan gadis itu. Ku perhatikan Luke tampak baik-baik saja dan tidak sedikitpun merasa sakit. Jadi minuman kemarin sama sekali tidak bisa memberinya efek? Hebat sekali Luke!

Aku duduk tanpa harus menengok ke arah kiri. Ku buka bukuku dan aku baca walau aku tidak mengerti apa yang aku baca. Aku terus saja berdoa agar Luke tidak berbicara padaku, bahkan menggodaku dengan kata-katanya yang.. Stop! Jangan pikirkan Luke lagi oke jika aku tidak ingin menangis.

Ku dengar bunyi ponsel ternyata Iphone Luke berbunyi. Luke mengangkatnya dan aku terpaksa melihatnya yang sedang ter.. Astaga! Ini baru pertama kalinya aku melihat Luke tersenyum dan shit! Aku menemukan lesung pipi di pipi kanan Luke dan itu membuat perasaanku semakin.. Sial! Mengapa ada manusia seperti Luke? Mengapa Luke begitu terlihat sempurna bagiku?

I love you too, Ary..”

Luke mengakhiri telponnya dengan ucapan yang sangat manis. Jadi Luke tadi telponan sama pacarnya dan pacarnya bernama Ary? Hatiku menjadi sakit dan aku memaki diriku sendiri. Luke tersenyum untuk pacarnya dan pasti pacarnya sangat beruntung memiliki kekasih seperti Luke. Tapi hello! Gadis itu tidaklah baik dan gadis itu tidak cocok untuk Luke. Tapi kurasa Luke amat mencintai pacarnya itu. Shit!

Setidaknya hari ini tidak ada guru yang gila dan Luke sama sekali tidak mempedulikanku. Oke. Aku baik-baik saja karena aku sudah berjanji untuk tak lagi sedih. Aku harus bahagia dan tidak boleh merasa sakit hati meski Luke.. Dan ya. Setiap kali aku teringat Luke, semua tekadku menjadi hancur dan berantakan. Tapi bukankah aku sudah mengaku kalau aku menyukai Luke? Cinta itu datang tanpa memandang apapun. Aku tidak salah jika jatuh cinta pada Luke dan tentunya Luke tidak salah jatuh cinta dengan Ary.

***

Aku cukup baik dan tenang sore ini. Aku diam di kamar sambil menyetel lagu-lagu kesukaanku. Corine, Chloe dan Marie sudah pergi keluar entah kemana. Sedangkan Lily masih berada di kamar. Dia sedang berbicara dengan pacarnya. Ku rasa Lily adalah gadis yang sangat beruntung memiliki pacar yang baik dan tidak selingkuh, dan Lily tidak bisa menyukai cowok lain karena sudah memiliki pacar. Sering sekali aku membandingkan antara diriku dengan Lily dan andaikan aku seberuntung Lily.

Rachel mengirimiku pesan, katanya dia sangat merindukanku dan ingin bertengkar denganku. Apakah Rachel tidak tau kalau aku sedang sakit hati karena Luke? Apakah Rachel bisa memahami perasaanku saat melihat Luke bersama pacarnya dan tersenyum hanya karena mengangkat telpon dari pacarnya? Rachel sempat membicarakan soal Alex dan aku ingin sekali menangis. Alex. Dia sudah bahagia bersama Selena dan Selena adalah gadis yang tepat untuknya. Tapi Rachel mendukungku dan berharap aku akan menemukan pengganti yang baru, yang lebih baik dari Alex. Luke? Hah!

Tentunya aku tidak perlu menceritakan sosok Luke karena nanti Rachel akan melaporkan hal ini pada Mom dan Mom akan memarahiku. Mom, aku menyukai Luke tetapi aku tidak ingin menyukai Luke, bagaimana ini? Setiap harinya batinku berperang dan berujung kesakitan. Jika saja aku bisa mengubah takdirku dan tidak akan ada masalah yang datang menghampiriku. Tapi bukankah hidup ini tak akan seru jika tidak ada masalah? Dan pastinya Tuhan menguji hamba-Nya tidak melebihi batas, maksudnya ujian itu pasti bisa terselesaikan walau susah, seperti ujian ku ini.

Ku lihat Lily sudah selesai dengan pacarnya dan dia langsung menghampiriku. Sebagai temannya, aku harus merasa senang karena Lily senang. Walau ya aku merasa cemburu pada Lily. Pacarnya begitu baik pada Lily.

“Andaikan semuanya tidak akan terjadi seperti ini.” Ucapku.

“Kau masih memikirkan Luke? Menurutku sebaiknya kau lupakan saja.” Ucap Lily.

Dengan mudah dan santainya Lily mengucapkan kalimat itu. Tetapi bagaimana cara melupakan Luke? Jika ada, aku akan melakukannya bagaimanapun caranya asalkan aku bisa menghapus rasa cintaku pada Luke.

“Bagaimana caranya?” Tanyaku.

“Caranya adalah… kau harus jatuh cinta dengan cowok lain.” Jawab Lily.

Seperti di sebuah novel. Jadi aku harus jatuh cinta dengan cowok lain? Tapi siapa? Tidak mungkin aku jatuh cinta dengan penduduk Inggris dan jarang aku menemukan warga Indonesia yang tinggal disini. Kalaupun ada, belum tentu dia tinggal di Jakarta, dan kalaupun aku bisa jatuh cinta padanya. Atau maksud Lily hanya untuk sebagai pelampiasan saja? Bagaimana jika orang itu akhirnya menyukaiku?

“Saran yang bagus Lily dan itu memang satu-satunya cara. Tapi aku tidak mau jatuh cinta dengan cowok yang bukan orang Indonesia.” Ucapku.

Lily menggaruk-garukkan kepalanya. “Bagaimana ya? Aku juga bingung. Jika kau terus-terusan menyukai Luke, tentu itu akan menyakitkanmu, ya kan? Luke bukan cowok tipemu karena dia terkesan liar sedangkan kau alim. Belum lagi pacarnya Luke yang sudah membuat aku muak.” Ucapnya.

Artinya, aku harus bisa bertahan sampai musim panas berakhir. Jika aku sudah tiba di Indonesia, pastinya aku bisa melupakan Luke. Ku harap juga begitu. Aku hanya bisa bertahan dan berjuang. Aku harus merasa kuat. Ya, Farah kau pasti bisa. Hapuslah kata ‘tapi’ karena ‘tapi’ tidak ada di dalam kamus hidupmu, oke.

***

Entahlah apa yang ada dipikiran Corine untuk merubahku menjadi sosok gadis yang lebih menarik perhatian bagi cowok. Pagi-pagi sekali Corine membangunkanku dan dia akan membuat diriku menjadi seperti dirinya, maksudku aku berpenampilan seperti Corine. Lily dan lainnya mendukungku. Mungkin aku harus sedikit berubah untuk sekedar menguatkan diriku. Corine hanya menyuruhku menggunakan pakaiannya dan aku dipaksa menggunakan rok pendek di atas lulut. Jujur saja aku tidak mau, apalagi saat nanti aku berhadapan dengan Luke dan Luke heran dengan penampilan baruku.

“Ini adalah pakaian yang cocok untukmu.” Ucap Corine.

Astaga dress itu berwarna ping walau warna dasarnya berwarna putih tetapi aku sangat tidak menyukai warna ping dan roknya sangat pendek. Di bagian atasnya juga emmm bisakah Corine lebih serius? Aku bukan mau mengikuti audisi model tetapi aku mau sekolah. Tapi Corine memaksaku dan aku terpaksa menurutinya. Kemudian Lily melempar cardigan yang lagi-lagi berwarna ping tapi aku menyukai cardigan yang panjangnya sesiku.

“Kau sangat cantik Farah, sini aku atur rambutmu.” Ucap Marie.

Sebenarnya tujuan mereka untuk membuatku menjadi seperti ini apa sih? Apa mereka ingin membuat Luke tertarik padaku sehingga Luke memutusi pacarnya? Tidak! Aku tidak mau! Aku sedang dalam proses melupakan Luke dan tidak ingin menarik perhatian pada Luke.

“Ku rasa rambutmu tidak perlu banyak di atur karena rambutmu sudah sangat cantik tanpa harus dibawa ke salon.” Ucap Marie.

Aku menatap diriku di cermin dan rasanya bukan diriku sendiri. Sungguh aku terlihat berbeda dan sangat cantik disana. Memang benar. Selama ini aku cantik tapi aku mencoba untuk terlihat biasa-biasa saja. Terakhir, Chloe dengan tangan jahilnya menyemprot parfum yang katanya parfum penarik cowok agar cowok itu tertarik padamu. Sialan Chloe! Aku berharap di kelas nanti sama seperti hari-hari kemarin.

Setiba di kelas, aku mulai merasa malu terutama dress yang aku gunakan sangat pendek. Sepanjang jalan aku berusaha menjaga rok-ku tetapi Corine malah memarahiku. Katanya biarkan saja. Enak sekali Corine bicara, coba dia berada di posisiku apa yang akan dia rasakan, pasti merasa kesal kan?

Luke tetap yang duluan tiba di kelas dan aku tidak tau jam berapa dia datang kemari. Luke terlihat seperti seorang murid yang rajin dan tidak pernah berbuat onar di sekolah. Aku duduk dengan jantung yang tidak normal dan sedikit gemetaran. Parfum tadi baunya cukup menyengat dan aku tidak yakin apakah Luke tidak menciumnya.

“Parfum apa yang kau gunakan? Kau gila! Kau tidak memerlukan parfum yang berlebihan untuk sekolah.” Ucap Luke.

Damn, damn, damn! Baru saja aku datang dan Luke sudah memarahiku. Ini semua karena si sialan Chloe yang menyemprotkan parfum secara tiba-tiba ke semua bagian tubuhku. Aku memberanikan diri menatapnya dan… Semua tekadku itu seakan-akan telah hancur dan aku ingin sekali rrr…

“Kau benar-benar gadis yang gila.” Ucap Luke.

“Aku.. Aku tidak gila! Kau yang gila!” Ucapku frustrasi.

“Ohya? Aku lebih suka penampilanmu yang kemarin. Jangan mencoba menjadi orang lain.” Ucap Luke.

Apa dia bilang? Luke lebih menyukai penampilanku kemarin dan jangan mencoba menjadi orang lain? Apa aku terlihat seperti ingin menjadi orang lain? Tapi aku begitu kagum dengan ucapannya. Luke. Jika perasaan ini memang kuat dan susah untuk dihilangkan, aku akan berjuang untuk mendapatkan Luke. Aku akan berjuang untuk menyingkirkan pacar Luke. Heh. Tiba-tiba saja aku menjadi sosok penghancur hubungan orang tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin melakukan apa yang ingin aku lakukan. Itu saja.

***




Tidak ada komentar:

Posting Komentar