expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Kamis, 10 November 2016

My Everything ( Part 4 )



“Aku ke perpustakaan ya.” Ucap Ariana pada Vio dan Luke.

            Ariana harus mengerjakan tugas dari Miss Lina untuk memenuhi nilainya. Tugasnya cukup mudah. Ia disuruh pergi ke perpustakaan lalu meringkas apa yang Miss Lina suruh. Vio dan Luke tidak ikut karena pastinya tidak ada tugas yang mereka kerjakan dan mereka tidak ingin menganggu Ariana.

            Setiba di perpustakaan, Ariana duduk di kursi paling ujung dekat jendela. Ia meletakkan peralatan tulisnya di atas meja lalu mencari buku sesuai petunjuk Miss Lina. Sial. Buku itu berada di rak paling atas dan ia tidak bisa meraihnya. Ariana kesal dengan dirinya, khusunya tinggi badannya yang hanya bisa mencapai 155 cm. Padahal keluarganya tinggi-tinggi. Tiba-tiba Ariana melihat seorang cowok berambut pirang yang juga memilih-milih buku. Ariana memerhatikan cowok itu. Sepertinya ia pernah melihat cowok itu sebelumnya.

            “Hai bisa minta bantuannya tidak?” Tanya Ariana sesopan mungkin.

            Cowok itu tidak menjawab. Ariana menjadi kesal. Cowok itu adalah cowok berkacamata yang ia tak sengaja lihat saat pertama kali tiba di sekolah. Tampang cowok itu lumayan imut dan sepertinya cowok itu tidak banyak bicara.

            “Hai bisa minta bantuannya tidak?” Tanya Ariana sekali lagi dengan suara yang lebih besar.

            Tapi sama saja. Cowok itu tidak menoleh ke arahnya. Dasar tuli! Kesal Ariana. Cowok itu terkesan sombong dan Ariana sangat membenci orang yang sombong. Kenapa sih cowok itu tidak mau meliriknya sedikit saja? Toh ia hanya meminta bantuan untuk mengambil buku yang berada di rak paling atas.

            Tiba-tiba saja cowok itu mengalihkan pandang ke arahnya. Bukannya senang, Ariana melipat kedua tangannya di dada sambil menatap cowok itu dengan kesal. Sementara cowok itu terdiam.

            “Kenapa kau menatapku seperti itu?” Tanya cowok itu.

            “Kau tuli atau pura-pura tidak dengar sih?” Tanya Ariana.

            Cowok itu terdiam. Namun jika diperhatikan baik-baik, wajahnya cukup pucat dan seperti tengah berusaha menahan sakit di hatinya akibat ucapan gadis itu. Semoga aku tidak salah dengar, pasti aku salah dengar, bukan salah dengar, maksudnya salah mengartikan, batin cowok itu lalu duduk tak jauh dari tempat Ariana.

            Ariana memutuskan kembali menatap buku itu. Bagaimana cara untuk mengambilnya? Gadis itu menjinjitkan kakinya dan berusaha memaksimalkan panjang tangannya(?)untuk meraih buku itu. Ayo sedikit lagi! Kau pasti bisa! Dukung Ariana pada dirinya sendiri. Namun kemudian Ariana melihat tangan putih yang mengambil buku itu. Ariana refleks menoleh ke samping kanan. Cowok itu! Cowok yang tadi tidak mendengar ucapannya dan sekarang dia membantunya mengambil buku itu? Mau cowok itu apa sih?

            “Ini.” Ucap cowok itu memberi buku yang Ariana maksud.

            Ariana menerimanya. “Thanks.” Ucapnya singkat lalu kembali ke tempatnya.

            Jika saja Ariana memerhatikan cowok itu, dia akan merasa malu sekaligus heran karena cowok yang tadi menolonnya terus saja menatapnya. Bagi Ariana, cowok tadi itu tidak penting dan Ariana tidak berkeinginan berkenalan dengan cowok itu.

            Kurang lebih satu jam Ariana mengerjakan tugas dari Miss Lina. Ariana merapikan semua barang yang ia bawa ke perpustakaan. Ariana menatap cowok tadi yang masih duduk sambil membaca novel yang tebal. Lho kenapa aku jadi penasaran dengannya? Lama Ariana menatap cowok itu, cowok itu beralih menatapnya. Cepat-cepat Ariana mengalihkan pandang lalu meninggalkan perpustakaan, sedangkan buku yang tadi ia gunakan ia taruh asal.

***

            Sepulang sekolah, Ariana heran dengan sikap Ibunya yang seakan-akan ingin memberinya kejutan. Padahal hari ini bukan hari ulang tahunnya. Ibunya memasang kain di mata-nya agar ia tidak bisa melihat. Ariana pasrah saja. Dengan hati-hati, Ibunya menuntut-nya menuju tempat yang Ariana sendiri tidak tau.

            “Sekarang buka kain itu.” Ucap Ibunya.

            Jantung Ariana sedikit berdebar-debar. Gadis itu membuka kain di matanya dan dia bisa melihat dengan jelas apa yang ada di hadapannya. Sebuah piano klasik yang mengingatkannya akan nenek-nya yang jago bermain piano.

            “Bukankah itu piano Grandma?” Tanya Ariana.

            Ibunya tersenyum. “Tentu saja! Mom ingin kau bisa bermain piano. Mom yakin sekali kau bakat bermain piano.” Ucapnya.

            Langsung saja Ariana memeluk Ibunya. Ya. Tidak ada salahnya mencoba menekan tuts-tuts yang ada di piano itu. Ariana duduk di kursi yang sudah ada di dekat piano itu. Jari-jarinya yang lentik mulai menekan tuts piano itu. Ariana menciptakan nada yang asal-asalan namun enak di dengar.

            “Tuh kan baru pegang saja suah jago.” Ucap Ibunya.

            “Aku akan terus berlatih. Aku ingin menjadi pianis terkenal seperti Grandma.” Ucap Ariana.

            Ariana masih mengingat masa lalunya, tapi syukurlah dia melupakan masa lalu dua tahun belakangan ini, batin Ibunya lega. Ibunya memutuskan membiarkan Ariana asyik dengan dunianya.

***

            “Hai bro!”

            Suara Liam mengagetkannya. Zayn yang sedang makan sambil melamun ( atau melamun sambil makan? ) mendadak kaget akibat suara Liam, sahabatnya itu, padahal sapaan Liam santai-santai saja.

            “Biar aku tebak. Kau pasti memikirkan Gigi kan?” Tanya Liam.

            “Tidak.” Jawab Zayn.

            Liam tertawa. “Kau sangat payah menyembunyikan sesuatu. Ayolah, kurasa Gigi juga menyukaimu jadi apa salahnya menyatakan cinta padanya?” Ucap Liam semangat.

            Lho kok Liam yang semangat? Seharusnya Zayn yang semangat. Tapi sungguh Zayn tidak memikirkan Gigi, melainkan memikirkan seorang cowok yang saat ini ingin ia bunuh. Cowok yang ada hubungannya dengan masa lalu Ariana. Tapi dimana cowok itu? Ah ya cowok itu tinggal di New York. Zayn sering bertemu cowok itu saat ia pulang ke New York. Cowok yang kelihatan manis namun sebenarnya cowok itu sangat jahat.

            “Kau masih ingat tentang anak laki-laki yang ingin sekali aku bunuh itu?” Tanya Zayn.

            Liam mengangkat sebelah alisnya. “Kau masih dendam dengannya? Sudahlah Zayn. Ariana saja tidak ambil pusing.” Ucapnya.

            Tiba-tiba Zayn memukul meja. “Ariana amnesia! Dia tidak bisa mengingat si brengsek itu!” Bentak Zayn.

            Keep calm, man. Meski ini cafee-mu, kau harus tenang dan jangan membuat pengunjung kebingungan karena sikapmu itu.” Ucap Liam.

            “Tapi emosiku selalu naik jika aku mengingat cowok itu!” Ucap Zayn.

            “Aku bisa merasakan kebencianmu dengan cowok itu. Tapi setidaknya Ariana baik-baik saja kan?” Ucap Liam.

            Dari arah masuk cafee, muncul seorang gadis cantik yang tidak sengaja menatap dua pria tampan itu. Gadis itu tersenyum lalu menunduk. Liam yang melihat kedatangan gadis itu langsung menyenggol Zayn.

            “Itu Gigi!” Ucap Liam.

            Zayn menoleh ke arah yang Liam maksud. Zayn menelan ludahnya. Disana Gigi terlihat cantik walau dari belakang. Rasanya sulit menyatakan perasaannya ke Gigi. Selain itu, Zayn teringat akan janjinya bahwa ia tidak mau pacaran sebelum memberi pelajaran kepada cowok yang dulu sudah menghancurkan Ariana.

            “Apa aku harus ke New York?” Tanya Zayn.

            “New York? Kau sangat sibuk disini. Ayolah Zayn, lupakan cowok itu dan fokus ke Gigi. Fokus! Kalau tidak, jangan salahkan aku yang esoknya menggandeng tangan Gigi dengan mesra.” Ucap Liam.

            “Lakukan saja kalau kau ingin kehilangan nyawamu.” Ucap Zayn.

            Tentu saja Liam tertawa mendengar ucapan Zayn.

***

            “Kau tampak bahagia hari ini. Ada apa?” Tanya Vio.

            Tentu saja Ariana bahagia karena piano yang ia dapatkan dan Ariana senang bermain piano. Ariana berharap Vio maupun Luke juga menyukai musik. Artinya hobi mereka sama.

            “Kemarin Mom memberiku piano yang adalah milik Grandma. Dulu, Grandma adalah pianis terkenal.” Jawab Ariana.

            “Kau menyukai musik?” Tanya Luke.

            Ariana tersenyum. “Tentu saja! Aku suka menyanyi dan bermain piano walau sebagai pemula. Tapi aku akan berusaha menjadi pianis terkenal seperti Grandma.” Ucapnya.

            Kemudian Luke menarik tangannya lalu mengajak Ariana pergi ke suatu tempat. Vio mengikuti keduanya dari belakang. Sepertinya gadis itu tau akan kemana Luke membawa Ariana. Menurutnya, Luke sama Ariana cocok. Mereka sama-sama manis. Dugaan Vio benar. Luke membawa Ariana ke ruang musik.

            “Untuk apa kau membawaku ke ruang musik?” Tanya Ariana.

            Well, katamu tadi kau suka menyanyi dan bisa bermain piano. Jadi kau harus membuktikan ucapanmu.” Ucap Luke.

            Vio yang barusan datang menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan Luke. Tapi sepertinya Ariana tidak mau menuruti ucapan Luke. Lagipula permainan piano gadis itu masih terbilang payah. Apalagi jika bermain dihadapan Vio dan Luke.

            “Aku tidak mau!” Ucap Ariana.

            “Kau harus mau!” Ucap Luke.

            Ariana mendengus kesal. Tapi tidak ada salahnya juga kan bernyanyi sambil main piano disini? Ariana menengok ke dalam. Ruang musik tampak sepi. Tidak ada siapa-siapa di dalam sana. Bagi orang seperti Luke tentu saja mudah masuk ke dalam ruang musik bahkan ruang manapun.

            “Tapi aku malu, Luk.” Ucap Ariana.

            Luke tertawa lalu mengacak-acak rambut Ariana. “Kau sama seperti sepupuku. Dia cukup pemalu dan tidak mau menampilkan bakatnya.” Ucapnya.

            Baiklah. Ariana tidak mau berdebat dengan Luke. Percuma berdebat dengan cowok itu. Gadis itu pun masuk ke ruang musik yang tentu saja isinya adalah alat-alat musik. Semua alat-alat musik tertata rapi. Alangkah indahnya jika ia selalu berada di tempat ini jadi Ariana bisa memainkan semua alat musik walau ia sendiri tidak bisa.

            Tatapannya tertuju pada piano yang mirip dengan piano Grandmanya, hanya saja piano disini terlihat lebih modern. Ariana duduk di kursi dekat piano itu lalu mulai menekan tuts piano itu.

            “Kau benar. Kau pandai bermain piano.” Ucap Vio.

            Ariana tersenyum malu. Padahal ia hanya menekan tuts piano asal-asalan. Satu-satunya lagu yang bisa ia nyanyikan adalah My Immortal oleh Band Rock bernama Evanescene. Butuh waktu berjam-jam baginya menyanyikan lagu itu diiringi piano dengan sempurna.

            “Ayo kau harus nyanyi lagu apa saja!” Ucap Luke.

            Oke. Sebelumnya Ariana menarik nafas dalam-dalam. Jari-jarinya kembali menekan tuts piano dan kali ini dia tampak serius. Ariana begitu meresapi lagu yang akan dia nyanyikan sementara Vio dan Luke terdiam melihat Ariana. Diam-diam keduanya kagum dengan Ariana. Justru Ariana sangat berbakat di bidang musik.

            I'm so tired of being here, suppressed by all my childish fears

And if you have to leave, I wish that you would just leave

Cause your presence still lingers here and it won't leave me alone

These wounds won't seem to heal, this pain is just too real

There's just too much that time cannot erase..”

            Baik Vio maupun Luke merinding mendengar suara Ariana yang benar-benar bagus. Bahkan menurut Luke, lagu itu lebih bagus dinyanyikan oleh Ariana ketimbang penyanyi aslinya. Diam-diam Luke memerhatikan wajah Ariana yang seakan-akan menangis karena lagu yang dinyanyikannya begitu sedih.

            When you cried I'd wipe away all of your tears

When you'd scream I'd fight away all of your fears

And I held your hand through all of these years

But you still have all of me


I've tried so hard to tell myself that you're gone

But though you're still with me

I've been alone all along…”

Setelah Ariana selesai menyanyikan lagu itu, Luke dan Vio bertepuk tangan. Vio langsung memeluk Ariana. Gadis itu jadi ingin bisa bermain piano seperti Ariana. Tapi sayangnya Vio hanya bisa bermain gitar sama seperti Luke.

Di luar sana, seorang cowok berkacamata yang tidak lain adalah cowok yang pernah membantu Ariana mengambil buku di perpustakaan itu tersenyum kecil. Ternyata Ariana menyukai musik dan jago bermain piano meski… Ah sudahlah. Kemudian cowok itu meninggalkan ruang musik sebelum ketahuan yang di dalam sana.

“Nanti saat acara sekolah kau harus tampil di panggung!” Ucap Vio.

“Tidak ah. Aku tidak mau. Kalau aku salah lirik atau salah nekan tuts-nya gimana dong?” Tolak Ariana.

“Kau ini.. Hal seperti itu saja dipikirkan.” Ucap Luke.

Ariana cemberut. “Bisa saja kan?” Ucapnya.

***

            Sore menjelang malam Ariana sibuk membaca buku di ruang tamu karena besok ada tes biologi. Bagaimanapun juga nilainya harus bagus sekalian mengalahkan nilai Luke walau rasanya mustahil. Yang membuatnya kesal, saat tes, Vio selalu bertanya padanya dan jika ia ketahuan guru, bukan Vio yang disalahkan melainkan dirinya. Bukankah itu mengesalkan?

            Ariana baru sadar melihat kakaknya yang mondar-mandir tidak jelas. Ada apa dengan Zayn? Apakah Zayn sedang memikirkan bidadarinya itu? Bagi Ariana, Zayn adalah pria yang payah dalam berhadapan dengan wanita. Gigi adalah gadis yang baik dan Ariana yakin Gigi juga menyukai Zayn, artinya cinta Zayn tidak bertepuk sebelah tangan.

            “Sudahlah kak jangan galau seperti itu. Sekarang kak Zayn ke rumah kak Gigi saja, kasih dia bunga, berlutut di hadapan kak Gigi sambil nyium tangan kak Gigi.” Ucap Ariana.

            Zayn menoleh ke adiknya. “Kau ini, ada masalah lain yang sedang aku pikirkan.” Ucapnya.

            “Masalah apa?” Tanya Ariana.

            Siapa lagi kalau bukan sosok cowok yang sangat dibenci Zayn? Zayn memang begitu. Anaknya pendendam dan sulit memaafkan orang lain. Segala nasehat yang ia dapatkan dari Liam berlalu begitu saja. Tapi apa gunanya memikirkan cowok itu? Toh Ariana baik-baik saja kan? Tapi Zayn masih sakit hati akibat kejadian dulu dan Ariana tidak boleh mengetahuinya.

            “Baiklah aku akan ke rumah Gigi.” Ucap Zayn.

            Ariana tersenyum lalu berucap dalam hati. ‘Semoga kak Gigi tidak ada di rumah jadi kejadiannya mirip saat kak Gigi yang datang kesini tapi orang yang dicarinya tidak ada.’

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar